Darinya, Aku Banyak Belajar

by - February 17, 2020

Gambar mungkin berisi: 2 orang, orang tersenyum
Agustus 2016
Resmi menjadi ibu sejak lebih dari enam tahun yang lalu benar-benar membuat jalan hidup saya berubah,  pola pikir saya berubah, penerimaan terhadap pada setiap yang terjadi,  dan semua bagian hidup saya berubah.

Ya. Sejak menjadi ibu,  semua hal yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya bisa saya jalani, walau pun awalnya harus bingung, bertanya-tanya kemana-mana,  mencari referensi kemana-mana, dan sampai sekarang pun saya masih harus terus banyak belajar.

Hari ini kantor saya dan suami libur. Melihat ummi dan abi nya tidak berangkat kerja,  Alif,  anak sulung saya juga tidak mau berangkat sekolah.
"Kakak mau libur juga kayak ummi dan Abi. "
Begitu katanya, padahal sekolahnya tidak libur.  Tapi untuk hari ini saya dan suami mengiyakan keinginannya. Untungnya Alif masih sekolah Taman Kanak-Kanak.

"Ya sudah,  hari ini kita main di rumah aja ya Kak." Jawabku,  dan langsung disambut senyum sumringah di wajahnya.

Sejak pagi Alif sudah asyik bermain dengan adiknya. Diselingi dengan menemani saya menunggu tukang sayur lewat sambil bermain di halaman depan. Nepuk nyamuk sama-sama,  cerita konyol imajinasinya dan lain-lain.

Setelah belanja keperluan menu hari ini dan semua bahan masakan sudah siap,  saya mulai mengolah masakan pagi ini. Saya mau masak gulai ayam. Anak-anak suka sekali,  karena gulai yang saya masak tidak pedas. Selagi saya masak,  Alif dan Fira,  adiknya,  mandi. Mereka bisa mandi sendiri, atau lebih tepatnya main air sendiri. Hihi.

Sesaat kemudian dengan badan basah kuyup, Alif keluar kamar mandi lalu mengatakan sesuatu kepada saya.
"Ummi, kakak sama adek mau mandi ujan-ujan, Mi."

"Kenapa, Kak? "

"Emm.. Maksud kakak, besok-besok Ummi buat mandi ujan-ujan sama kakak dan adek ya. "

"Oo. Iya."

Tentu bukan mandi hujan yang sebenarnya karena saat ini cuaca sedang cerah berbinar. Yang dia maksud adalah saya membuat hujan dengan mengguyurkan air ke tubuh mereka tapi guyuran airnya dikibas-kibaskan dengan jari agar seolah seperti air hujan. Saya sering melakukan itu, dan anak-anak suka sekali.

Tapi,  ada satu hal yang saya tangkap dari kalimatnya tadi.
Alif mengoreksi kalimat pertamanya dengan menambahkan kata "besok-besok" di kalimat kedua. Saya menangkap ekpresinya saat mengatakan kalimat itu. Dia sedang bicara sekalian memperhatikan kondisi ummi nya saat itu.  Saat mengatakan itu dia melihat saya sedang mengaduk gulai ayam yang belum matang. Dia tau, dia ingin main ujan-ujan, tapi dia lihat umminya sedang masak. Dia tau ummi harus selesai masak dulu baru bisa main bersama mereka. Bisa jadi dia sudah bisa menebak apa jawaban saya kalau mengajak main saat itu juga.

Alif kembali ke kamar mandi lalu terdengar gelak tawanya bermain air bersama adek Fira. Anak-anak saya suka sekali main air.

Sesaat saya terenyuh dengan apa yang dikatakan Alif tadi. Ternyata, dia sudah tahu bagaimana cara meminta sesuatu dari umminya dengan mempertimbangkan keadaan. Dia sudah bisa bagaimana harus mengatakan keinginannya. Dan bagaimana harus menerima kondisinya.

Ya Allah,  time flyes quickly. Melihat hal itu,  saya merasa waktu begitu cepat berlalu. Dia bayi gembulku yang wangi sudah berusia enam tahun,  dan sebentar lagi akan memakai seragam putih merah.

Dia sudah bisa bicara dengan orang dewasa dengan logika berpikirnya.
Tapi saya,  ibunya, masih sering belum bisa bagaimana harusnya bicara dengan anak seusia dia. Saya masih sering melontarkan kalimat tidak nyambung saat memberitahu dia tentang sesuatu,  saya masih sering bicara dengan bahasa saya tapi bukan dengan bahasa yang sesuai dengannya.
Saya,  saya masih harus banyak belajar lagi, salah satunya justru dari dia.

*Ditulis April 2019

Gambar mungkin berisi: 1 orang, tersenyum, duduk dan luar ruangan




You May Also Like

0 comments

Terima kasih sudah berkunjung ^^,
meninggalkan jejak yang baik akan membuat yang ditinggalkan menjadi lebih baik