Dunia Emjeaje


Kisah ini terjadi pada masa khalifah Umar bin Khattab ra.
***
Alkisah ada seorang pemuda kaya hendak pergi ke Makkah untuk melaksanakan ibadah umrah. Dia mempersiapkan segala perbekalannya, termasuk unta yang akan digunakan sebagai kendaraannya. Setelah semua dirasa siap, dia pun memulai perjalanannya.

Ditengah perjalanan, dia menemukan sebuah tempat yang ditumbuhi rumput hijau nan segar. Dia berhenti di tempat itu untuk beristirahat sejenak. Pemuda itu duduk dibawah pohon. Akhirnya, karena lelah dalam perjalanan, pemuda ini pun tertidur nyenyak sekali.

Saat ia tidur, ternyata tali untanya lepas. Pergilah unta itu kesana ke mari. Dan akhirnya unta itu masuk ke kebun yang ada di dekat situ. Unta itu memakan tanam-tanaman dan buah-buahan di dalam kebun itu. Dia juga merusak apa saja yang dilewatinya.

Penjaga kebun itu adalah seorang kakek tua. Sang kakek berusaha mengusir unta itu, namun usahanya tidak berhasil. Karena khawatir unta itu akan merusak seluruh kebunnya, kakek itu lalu membunuhnya.

Ketika bangun, pemuda itu mendapati untanya sudah tidak ada, lalu dia mencari kesana ke mari. Akhirnya dia menemukan unta itu sudah tergeletak mati dengan leher menganga di dalam kebun. Pada saat itu sang kakek datang. Pemuda itu bertanya, "Siapa yang membunuh unta ini?". Lalu sang kakek menceritakan kronologi kejadiannya hingga bagaimana unta itu dibunuh.

Mendengar hal itu, sang pemuda sangat marah hingga tak terkendali. Serta-merta dia memukul kakek penjaga kebun itu. Naasnya, karena pukulannya sang kakek itu pun meninggal seketika. Pemuda itu menyesal atas apa yang diperbuatnya. Dia berniat kabur.

Saat kejadian itu, datanglah dua orang anak sang kakek tadi. Mengetahui ayahnya sudah tergeletak tak bernyawa di samping pemuda itu sedangkan tidak ada orang lain selain mereka, akhirnya dua pemuda itu menangkapnya. Kemudian membawa pemuda tadi menghadap Amirul Mukminin Khalifah Umar bin Khattab ra. Mereka berdua menuntut dilaksanakan qishash (hukuman bagi orang yang membunuh) kepada pemuda tersebut.

Lalu Umar bertanya kepada pemuda itu. Pemuda itu mengakui perbuatannya. Dia benar-benar menyesal atas apa telah dilakukannya. Umar berkata, "Aku tidak punya pilihan lain kecuali melaksanakan hukum Allah." Seketika itu, sang pemuda meminta kepada Umar agar dia diberi waktu dua hari untuk pergi ke kampungnya, sehingga dia bisa melunasi hutang-hutangnya.

Umar berkata, "Hadirkan padaku orang yang menjamin bahwa kau akan kembali lagi ke sini. Jika kau tidak kembali, orang itu yang akan diqishash sebagai ganti dirimu."

Pemuda itu menjawab, "Wahai Amirul Mukminin, aku orang asing di negeri ini, aku tidak bisa mendatangkan seorang penjamin."

Sahabat Abu Dzar ra yang saat itu hadir di situ berkata, "Hai Amirul Mukminin, ini kepalaku, aku berikan kepadamu jika pemuda ini tidak akan datang lagi setelah dua hari."
Dengan terkejut, Umar bin Khattab berkata, "Apakah kau yang menjadi penjaminnya, wahai Abu Dzar? Wahai sahabat Rasulullah?"

"Benar, Amirul Mukminin, " jawab Abu Dzar lantang.

Pada hari yang telah ditetapkan untuk pelaksanaan hukuman qishash, orang-orang menantikan datangnya pemuda itu. Sangat mengejutkan! Dari jauh sekonyong-konyong mereka melihat pemuda itu datang dengan memacu kudanya. Sampai akhirnya, dia tiba di tempat pelaksanaan hukuman. Orang-orang memandangnya dengan rasa takjub.

Umar bertanya kepada pemuda itu, "Mengapa kau kembali lagi ke sini Anak Muda, padahal kau bisa menyelamatkan diri dari maut?"
Pemuda itu menjawab, "Wahai Amirul Mukminin, aku datang ke sini agar jangan sampai orang-orang berkata, 'tidak ada lagi orang yang menepati janji di kalangan umat Islam', dan agar orang-orang tidak mengatakan 'tidak ada lelaki sejati, ksatria yang berani mempertanggungjawabkan perbuatannya di kalangan umat Muhammad SAW'."

Lalu, Umar melangkah ke arah Abu Dzar Al Ghiffari dan berkata, "Dan kau wahai Abu Dzar, bagaimana kau bisa mantap menjamin pemuda ini, padahal kau tidak kenal dengan pemuda ini?"

Abu Dzar menjawab, "Aku lakukan itu agar orang-orang tidak mengatakan bahwa 'tidak ada lagi lelaki jantan yang bersedia berkorban untuk saudara seimannya dalam umat Muhammad SAW."

Mendengar itu semua, dua pemuda anak sang kakek yang terbunuh itu pun berkata, "Sekarang tiba giliran kami, wahai Amirul Mukminin. Kami bersaksi di hadapanmu bahwa pemuda ini telah kami maafkan, dan kami tidak meminta apa pun darinya. Tidak ada yang lebih utama dari memberi maaf dikala mampu. Ini kami lakukan agar orang tidak mengatakan bahwa tidak ada lagi orang berjiwa besar, yang mau memaafkan saudaranya di kalangan umat Muhammad SAW."

Apa yang bisa kita ambil pelajaran dari kisah ini? Tentu banyak hal.
Bertanggung jawab atas apa yang sudah diperbuat, menepati janji, percaya kepada saudara seiman, mampu melindungi, memaafkan dikala mampu membalas, dan yang pasti semua ini karena iman yang kokoh.

Semoga Allah menjagamu, menjagaku, menjaga kita agar selalu beriman kepadaNya.

*Kisah ini dikutip dari buku Ketika Cinta Berbuah Surga, karya Habiburrahman El Shirazy

January 29, 2019 39 comments
Yang namanya sedekah pasti sudah sangat sering kita dengar kan? Tapi gimana dengan pelaksanaannya? Apakah sedekah masuk dalam resolusi kita di tahun 2019 ini? Harus dipahami bahwa sedekah tidak melulu soal uang. Ada banyak cara kreatif untuk bersedekah yang tentu tidak memerlukan biaya yang besar atau bahkan tidak memerlukan biaya sama sekali. Pilih sedekah yang mudah dan ringan untuk kita lakukan. Sekarang coba kita simak beberapa ide kreatif untuk sedekah berikut ini.

1. Mengurus Masjid
Gak mesti harus menjadi pengurus masjid yang resmi untuk bisa mengurus rumah Allah. Kita sebagai pengguna masjid bisa melakukan beberapa hal sederhana yang insyaallah akan bermanfaat dunia akhirat. Seperti :
- Laundry/ cuci mukenah di masjid atau musholla terdekat secara berkala
- Beli kamper/ pengharum lemari, taruh di tempat mukenah di masjid atau musholla yang kita singgahi
- Beli perlengkapan untuk membersihkan toilet, juga pengharum ruangan, dan berikan secara berkala ke masjid-masjid
- Bagi yang shalat Jum'at, datanglah 15 menit lebih awal. Bantu beres-beres dan bersih-bersih masjid.
- Beli beberapa pasang sandal jepit. Taruh di masjid atau musholla untuk digunakan berwudhu.
gambar dari sini 

2. Botol Plastik 
Kalau beli minuman kemasan, kalau belum habis tetap dibawa pulang. Airnya bisa disiramkan ke tanaman, dan kemasannya bisa kita kumpulkan. Kalau sudah banyak bisa kita berikan ke pemulung. Sekalian ditambah juga dengan botol shampoo, sabun cair, dan botol plastik lain yang ada dirumah.

3. Beli Makanan
- Siapkan nasi bungkus. Berikan kepada orang-orang yang kira-kira membutuhkan seperti pedagang kecil, pengemis, pengamen, anak terlantar, orang gila dijalanan, petugas kebersihan, dan lain-lain. Tidak perlu banyak, misal 1 bungkus setiap hari.
- Ketika makan di kaki lima ada pengemis atau anak terlantar, belikan mereka seporsi seperti yang kita makan.
- Belikan makanan untuk buka puasa kepada teman sekantor yang sedang berpuasa sunnah. 

Hasil gambar untuk diskon
4. Beli Barang Diskon Lebih Banyak
Bila sedang belanja bulanan ada barang yang sedang diskon, misal deterjen, minyak goreng, sabun, buku tulis, pulpen, biskuit, dan lain-lain, belilah agak banyak lalu kemas dengan rapi, bagikan kepada saudara terdekat yang hidupnya pas-pasan. Kalau keuangan kita sedang lancar, sekali-sekali bisa ajak mereka belanja bersama.

5. Manfatkan Kendaraan
- Tawarkan teman yang searah untuk pulang bersama.
- Bantu membawa barang pindahan tetangga.
- Bila sedang naik kendaraan umum, bayari nenek atau orang tua yang terlihat dari kalangan kurang mampu. 

6. Sedekah Pada Hewan
- Beli beberapa ekor burung yang murah saja, lalu lepaskan ke alam bebas.
- Beli makanan kucing siap saji, simpan dalam toples, bawa saat bepergian. Bila menemukan kucing liar diperjalanan, berikan.
Hasil gambar untuk memberi makan hewan

7. Sortir Barang
Biasakan memberlakukan Buy 1 Give 1 di rumah. Misal bila beli baju baru, keluarkan baju lama sejumlah baju baru yang dibeli. Selain berpahala, hal ini membuat kita tidak terbiasa menumpuk barang yang akhirnya akan membuat kita berlaku mubadzir. Ini juga berlaku saat akan membelikan mainan untuk anak. Ketika membelikan mainan baru, sepakati bersama anak kalau harus ada mainan lamanya yang disedekahkan kepada temannya atau panti asuhan.

8. Wakaf Buku
Banyak dari kita belum sanggup bila harus mengajar ilmu agama karena merasa masih sedikitnya ilmu, atau karena terbatasnya jarak dan waktu. Tapi kita bisa mengajarkan ilmu yang bermanfaat ini melalui wakaf buku yang diadakan oleh Buku Untuk Negeri ini. Mereka membuka donasi bagi siapapun  baik perorangan, kelompok, ataupun lembaga agar lebih banyak generasi Indonesia merasakan indahnya ilmu yang sudah Allah sampaikan melalui para Nabi dan Rasulnya. Dan insyaallah bagi siapapun yang terlibat dalam gerakan wakaf buku ini akan mendapat pahala sedekah jariyah yang terus mengalir.


Mudah bukan? Bisa dibayangkan kalau saja setiap hari amal-amal ini bisa kita jalankan, berapa banyak masalah sosial yang bisa diatasi. Dan insyaallah pahala akan diraih dan menjadi tabungan bagi kita di hadapan Allah nanti.

Mari kita mulai dari yang terlihat sepele, mulai dari diri sendiri, mulai dari sekarang. 
Semoga menginspirasi. Yuk sedekah! ^^


January 17, 2019 30 comments

Liburan semester dan liburan tahun baru kali ini kami sekeluarga berkumpul di rumah orang tua. Karena liburan yang lumayan lama, kami memutuskan untuk seminggu berada disana. Alhamdulillah, anak-anak bersemangat sekali saat akan diberitahu akan ke rumah Ino dan Unang nya. Saya pun tak kalah gembira, karena bisa makan makanan terlezat sejagad raya lagi, masakan Emak. Hihi.
Alif dan Fira, anak-anak saya yang menggemaskan itu adalah cucu pertama dan kedua mereka. Setiap musim liburan tiba, kehadiran dua bocah ini betul-betul menjadi hiburan bagi mereka yang sekarang sudah memasuki usia pensiunnya. 

Emak yang sudah tidak sekuat dulu bekerja di kebun kopi atau di sawah miliknya, sejak beberapa tahun terakhir memilih mengerjakan pekerjaan yang ringan saja untuk kegiatan sehari-hari. Di rumah Emak membuka warung kecil. Untuk memenuhi keperluan warungnya ini, setiap pagi Emak ke pasar. Sedangkan Bapak, masih ke kantor, dan masih sering juga ke kebun kopi. Walau rambut sudah hampir putih semua, Bapak masih kuat.

Ketika berada di rumah orang tua, ada saja yang bisa saya lakukan. Tapi  ada salah satu hal yang wajib saya lakukan saat pulang ke rumah, yaitu mengajak Bapak ngobrol. Beliau teman ngobrol yang seru. Bukan hanya menceritakan kegiatan  sehari-hari, kadang kami juga bisa bertukar pikiran tentang beberapa hal yang terjadi diantara keluarga besar, atau tentang desa, bahkan kadang tentang politik juga. Beliau, teman diskusi yang menyenangkan bagi saya sejak kecil. Tapi beliau sangat jarang memulai percakapan lebih dulu, mungkin karena bingung mau memulai percakapan darimana, karena anak-anaknya sering sibuk sendiri dengan kegiatan masing-masing.

Suatu pagi saat Emak sedang di pasar, melihat Bapak yang sedang santai dengan segelas kopi  di ruang tamu, saya tahu ini adalah waktu yang pas untuk ngobrol. Saya selalu memilih waktu ketika Bapak sedang santai,  dan ketika Emak sedang tidak ada.  Entahlah,  saya merasa Bapak akan lebih lepas bercerita apa pun saat kami sedang berdua saja. Saya lalu duduk di kursi sebelah kiri depan beliau. Berpikir kalimat pembuka apa yang pas untuk memulai percakapan.

Saya putuskan untuk bertanya tentang utang. Ya,  sejak saya kuliah, orang tua saya sudah mulai terbuka dengan setiap masalah yang terjadi, termasuk membicarakan soal utang yang melilit keluarga kami. Walau kadang Bapak tidak selalu setuju untuk menceritakannya, karena beliau takut saya kepikiran akan hal itu. Dan benar saja, setelah saya bertanya tentang utang itu, bertubi-tubi Bapak menjelaskan permasalahan yang selama ini tak pernah saya tahu, membuat saya sedikit merasa bersalah karena belum bisa membantu apa-apa. Lalu setelah itu dengan sendirinya obrolan pun mengalir.
Hasil gambar untuk bapak anak

Pembicaraan mulai beralih ke masalah rumah tangga yang lain. Dengan makna tersirat, dari obrolan kami ini saya menangkap bahwa apa yang kami bicarakan seolah Bapak sedang mengajari saya banyak hal. Diantaranya:

1. Banyak suami tidak betah di rumah,  karena istri yang terlalu cerewet.
Bapak bercerita soal suami yang selalu keluar rumah. Pulang kerja, makan siang duduk sebentar lalu pergi lagi, entah kemana. Sore pulang, selepas maghrib nanti pergi lagi sampai larut malam. Seperti terasa panas mungkin pantatnya kalau berada di rumah. Panas pula kupingnya, karena ternyata sang istri sering mengomel, dan yang diomelkan itu berulang-ulang seperti iklan sponsor.

Padahal saat suami berada di rumah, dia butuh ketenangan. Masalah yang terjadi di tempat kerja, atau di luaran sana ingin dia pinggirkan sejenak. Berharap di rumah dia bisa menenangkan pikiran,  menghibur diri, bercengkerama hangat dengan keluarga,  dan lain-lain.  Bayangkan bila dengan keadaan yang sedemikian rupa itu yang didapatinya dirumah adalah istri yang membahas permasalahan dari Sabang sampai Merauke,  alias mengomel. Sudahlah mengomelnya panjang,  suaranya cempreng,  fals pula. Kasihan sekali telinganya.

2. Posisikan Suami Sebagai Pemimpin Yang Dihormati
Bapak bercerita soal seorang suami yang sering dianggap remeh oleh istrinya. Semua yang istri lakukan seringnya tanpa persetujuan suami. Saat suami melarang istrinya melakukan sesuatu,  istrinya tidak peduli dan tetap melakukan apa yang suaminya larang itu.

Ketika perkataaan suami diabaikan, itu melukai kehormatannya sebagai pemimpin. Bagaimanapun, laki-laki tercipta dengan fitrahnya sebagai pemimpin. Dan dia memerlukan rasa hormat dari orang-orang terdekatnya agar fitrah jiwanya terpenuhi. Semenyebalkan apapun, dia tetaplah suami yang pintanya adalah perintah. Jadi jangan karena istri merasa benar, lalu mengabaikan apa yang sudah dikatakan oleh suami.

3. Sebagai Istri,  Pandailah Mengatur Keuangan
Terkait utang keluarga yang saya tanyakan diawal, saya paham bahwa ternyata utang itu terjadi karena ketidak-singkronan pengaturan keuangan antara Bapak dan Emak. Bapak maunya seperti ini, tapi Emak maunya seperti itu. Hasilnya, utang bukannya berkurang malah jadi bertambah.

Memang kudu seiya-sekata untuk urusan sensitif seperti ini.
Walaupun sumber keuangan itu dari aset pribadi istri, tetap saja kalau ada yang bisa dibicarakan, mungkin bisa sekalian menyusun rencana bersama suami kan.

4. Akui Kesalahan, Karena Dalam Keluarga Yang Salah Pun Tetap Dicinta
Ketika kita sebagai istri melakukan kesalahan, minta maaflah. Walaupun itu sesederhana menumpahkan minuman atau tak sengaja memecahkan gelas. Karena dari sana anak-anak akan belajar untuk mengakui kesalahan dan bertanggung jawab atas sekecil apapun perbuatannya. Dan bagi diri sendiri itu akan lebih melegakan, karena mengakui kesalahan pun tidak membuat kita kehilangan cinta keluarga. Ingat, kalau salah katakan salah. Janganlah selalu merasa benar. Karena menolak kebenaran, selalu merasa benar, dan meremehkan orang lain itu cirinya orang sombong. Tahu kan biangnya sombong itu siapa?

5. Biasakan Berdiskusi,  Agar Tak Ada Salah Persepsi 
Dengan seringnya suami dan istri ngobrol, bertukar pikiran dan berdiskusi apa saja, akan membuat ikatan emosi keduanya semakin akrab, chemistry terbangun, dan akan membuat suami istri saling memahami satu sama lain. Tapi harus diperhatikan juga bahwa laki-laki tidak bisa menangkap maksud dari ucapan dalam bentuk kalimat panjang, karena otak mereka tercipta hanya bisa menyerap dengan cepat kalimat langsung yang to the point, dan bukan kode-kodean. Kalau istri meminta sesuatu kepada suami, sampaikan dengan kalimat langsung, jangan bertele-tele. Jadi bagi istri yang selama ini bicaranya dengan makna tersirat atau kalimat bersayap atau apapun istilahnya, ada baiknya coba ganti kalimatnya. Jangan sampai sudah bicara  panjang lebar ternyata suami tidak paham, itu menyebalkan sekali. Bicara singkat dan fokus pada inti.


Obrolan pagi itu benar-benar membekas dalam ingatan saya. Melalui obrolan bersama Bapak terutama kisahnya bersama Emak membuka wawasan saya. Saya tersadar bahwa ternyata masih banyak hal yang belum saya ketahui di lingkup keluarga saya sendiri. Memang benarlah bahwa pengalaman adalah guru terbaik, jadi dari perjalanan hidup mereka yang sudah berpuluh tahun menjalani bahtera rumah tangga, saya bisa belajar banyak hal dan ternyata ilmu saya belum ada apa-apanya. Allah mengajarkan saya nasihat-nasihat berharga ini melalui mereka. Dan semoga, hal ini bisa menjadi wasilah bagi mereka untuk meraih pahala.

Ada yang sering ngobrol sama orang tuanya? Apa yang teman-teman ingat dari obrolan itu? Sharing yuk. ^^
January 08, 2019 26 comments
Newer Posts
Older Posts

FANPAGE

About me

Gambar mungkin berisi: 2 orang, termasuk Asep Suryadi


Full time mother. Grateful Wife. Motivator wanna be. Blue lover. Khadijah binti Khuwailid fan.

Contact me : emjeaje@gmail.com

Follow Us

recent posts

Follower

Labels

anak ANAK INDONESIA beauty BISNIS blogcontest BLOGGER BENGKULU CHALLENGE COLLEGE COURSES CYBER daily dakwah DREAM ENGLISH entertainment financial technology finansial gadget handphone info INSPIRASI INTERNET kecantikan kehamilan KELUARGA kendaraan KESEHATAN KISAH kopi bengkulu kosmetik lifestyle lirik lagu make up MARRIAGE NULIS SEREMPAK otomotif PARENTING puisi review sedekah SELF DEVELOPMENT teknologi TIPS TRUE STORY WUJUDKAN MIMPI

Blog Archive

  • ►  2020 (1)
    • ►  February (1)
  • ▼  2019 (25)
    • ►  September (1)
    • ►  August (3)
    • ►  July (1)
    • ►  June (1)
    • ►  April (3)
    • ►  March (8)
    • ►  February (5)
    • ▼  January (3)
      • LELAKI SEJATI
      • 8 Ide Kreatif Untuk Sedekah
      • Obrolan Pagi Bersama Bapak : Penuh Nasihat
  • ►  2018 (20)
    • ►  December (4)
    • ►  November (2)
    • ►  October (6)
    • ►  September (6)
    • ►  July (1)
    • ►  February (1)
  • ►  2017 (1)
    • ►  February (1)
  • ►  2014 (1)
    • ►  October (1)

Viewer

Blogger Bengkulu

Blogger Bengkulu

Indonesian Female Blogger

Indonesian Female Blogger

Estrilook

Estrilook

Popular Posts

  • Honor 10 Lite, Smartphone Canggih dengan 5 Sensor
  • 5 Hal Yang Dibutuhkan Anak dari Ayah
  • Fatmawati : Inspirasi dari Bengkulu Untuk Indonesia
  • 8 Ide Kreatif Untuk Sedekah
  • Bukan Tentang Apa, Tapi Bagaimana Sikapmu

Pages

  • Ceritanya Ini Saya

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates