Menghadapi sikap anak yang mulai banyak maunya kadang bikin saya kudu sering-sering narik nafas dalam-dalam. Plus mengangkat tangan ke atas dan ke bawah. Biar gak kehabisan oksigen dalam otak yang mengakibatkan nanti saya mulai kesurupan. Inhale, exhale, fiuhhhh. Ini saya lakukan supaya saya bisa mengontrol diri, takutnya kalo gak gitu saya jadi marahin anak berlebihan, jadi kayak orang kesurupan, ujungnya bisa-bisa saya ngupas kelapa pake gigi. Hahaha.
Seperti beberapa hari yang lalu, saya jemput si Kakak pulang sekolah. Setelah ngobrol beberapa saat dengan gurunya tiba-tiba dia minta beli mainan, padahal mainan yang dia minta udah ada tuh di rumah. Cuma bedanya dia minta beliin yang ukurannya lebih besar. Emaknya yang pelit ini mulai berhitung isi dompet, dan akhirnya memberi jawaban "maaf kak, kita belum bisa beli mainan itu sekarang".
Si Kakak gak terima donk dapat penolakan kayak gitu, mulailah dia merengek, "Ayolah Mi, beli Heli. Heli yang bisa berubah kaki."
Merengeknya ditengah keramaian lagi. Emaknya mulai bingung nih, mana malu pula. Padahal mainan Heli itu di rumah udah ada dua, ditambah lagi sama Poli, Amber, Roy, Tayo, Jett, Tobot, dan lain-lain.
Si Kakak mulai manyun, gak tega sebenarnya, tapi saya paham karakter si Kakak masih suka anget-angetan, pengen banget sama sesuatu eh trus nanti lupa, malah kadang mainannya diabaikan. Jadi saya pikir mending jangan langsung dibelikan.
Dari mulai berangkat dari sekolahnya sampai ke rumah mainan yang diinginkan si Kakak tetap tidak ada. Dirumah pun masih badmood dia. Dia menunjukkan aksi protesnya dengan muka manyun dan banyak diam. Tapi walaupun begitu, namanya juga anak-anak, setelah ganti baju dia mulai main dengan mainannya yang ada. Beberapa saat kemudian dia mulai larut dalam imajinasi bermainnya, raut muka yang tadinya mendung pun sudah berubah agak cerah. Menandakan dia udah mulai lupa dengan permintaannya tadi.
Melihat itu, saya menghampiri si Kakak, merangkul pundaknya lalu bilang, "Kak, ternyata mainan kakak banyak ya. Kayaknya kita gak perlu beli Heli lagi, dengan mainan yang ada kakak tetap bisa main kan?"
Yaaa.. abis ditanyain gitu dia manyun lagi, emaknya salah jurus, hahaha.
"Tapi Kakak maunya heli yang besar Mi. Yang bisa berubah. Heli yang ini kecil gak bisa berubah kakinya."
Closing statement dari emaknya. "Yaudah, Kakak main dengan yang ada aja sekarang ya."
Setelah itu pembicaraan tentang Heli selesai.
Sebenarnya, saya sudah menyiapkan satu mainan yang sudah lama dia inginkan, dan saya juga sudah janji akan membelikan mainan itu dengan syarat mengumpulkan tiga puluh bintang sholat. Sekarang bintangnya sudah 29. Tapi karena syarat belum terpenuhi, mainannya masih standby di meja kantor saya.
Saat malam, sambil menemani si Kakak dan si Adek beranjak tidur saya merenungi apa yang terjadi tadi siang. Benarkah apa yang saya lakukan? Tapi pertanyaan ini justru jadi membuat saya mengambil satu pelajaran.
"Beginikah cara kita meminta kepada Allah?"
Seperti si Kakak yang meminta mainan yang bahkan sudah dia punya, pernahkah kita minta sesuatu pada Allah yang bahkan sudah kita miliki? Seperti kita minta kendaraan yang sudah kita miliki, tapi kita minta yang lebih lagi. Padahal dengan kendaraan yang ada, kita masih tetap bisa beraktifitas seperti biasa, hanya selera saja yang membuat kita ingin lebih dan lebih dan lebih.
Ketika kita berdoa, meminta sesuatu kepada Allah, apakah kita cukup sabar?
Seperti mainan yang belum saya berikan kepada si Kakak, syaratnya belum tercukupi, makanya mainan itu belum sampai kepadanya.
Mungkin begitulah saat kita meminta kepada Allah. Mintaaaa terus, tapi usaha untuk menggapainya males-males. Atau udah usaha kerja keras, tapi dibalik itu kita ngeluuuhhh terus, bahkan sampai mempertanyakan, "Allah itu denger doaku gak sih?"
Hei.. Allah sesuai persangkaan hambaNya, kalo udah usaha, doa, ditambah haqqul yakin insyaallah akan ada hasilnya kok usaha kita. Seperti mainan yang diminta si Kakak, ukuran mainan dan harganya tidak lebih besar dari hadiah yang udah saya siapkan.
Bisa jadi begitu juga pengabulan doa dari Allah. Kalo pun gak dapet apa yang kita minta, insyaallah Allah udah nyiapin yang lebih baik, lebih banyak, lebih berkah dan manfaat. Kita aja yang kadang belum tahu maksud dari Allah.
Yaa emaknya jadi ceramah. Hihi.
Tapi beneran lho ini jadi pembelajaran buat saya pribadi. Dan saya merasa beginilah cara Allah memberikan pengajaran pada saya yang bodoh ini. Learning by doing.
Kalau kita pikirkan lagi, sungguh banyak yang bisa kita pelajari dari kehidupan sehari-hari.
Dan semoga kita bisa menjadi bagian dari orang-orang yang berbaik sangka dan mampu mengambil hikmah.



