Deddy Corbuzier Mualaf!! Lalu saya??
![]() |
| Gus Miftah jadi Narasumber di Channel Youtube @mastercorbuzier |
Beberapa hari ini hangat berita tentang master Deddy
Corbuzier resmi menjadi mualaf. Beliau bersyahadat dibimbing oleh Kyai Miftah
Maulana Habiburrahman atau yang dikenal dengan panggilan Gus Miftah di
Yogyakarta tepatnya di Masjid Al Mbejaji yang berada di Dusun Tundan, Purwomartani, Kalasan, Sleman.
Awalnya saya mendengar sekilas info bahwa Jumat siang,
tanggal 21 Juni 2019, Deddy Corbuzier akan mengikrarkan dirinya menjadi muslim.
Saya berucap syukur kepada Allah dalam hati lalu berkata “akhirnya..”
Yaa.. saya salah satu masyarakat Indonesia yang berharap beliau
mendapat dan menerima hidayah dari Allah, karena saya melihat ada potensi kebaikan
didalam dirinya yang akan berkontribusi baik bagi Islam (based on my own opinion ya). Beliau orang yang tegas, bila ada
yang salah atau tidak seharusnya, beliau dengan lantang akan mengatakan itu
tidak benar. Terlihat dulu saat ada kasus seorang anak muda yang melakukan hate speech dan mengarah kepada fitnah
terhadap beliau dan rekannya di sosial media, beliau lakukan berbagai cara agar
pemuda itu ditemukan dan akhirnya diproses secara hukum sampai selesai.
Sejak sering menyaksikan acara Hitam Putih yang master Deddy bawakan di televisi, saya bukan
hanya menikmati sajiannya, tapi juga menyimak perubahan-perubahan yang terjadi
dalam dirinya.
Perubahan yang paling kentara yang saya lihat adalah sejak
di acara Hitam Putih itu sering didatangkan ustadz-ustadz kondang. Salah satu
yang paling sering diundang adalah Ustadz Wijayanto. Di setiap segmen ketika
ustadznya hadir dan mulai berbincang dengan master Deddy, saya melihat antusias
dan ketertarikannya pada topik yang mereka bincangkan. Keluasan ilmu dari
Ustadz Wijayanto yang akhirnya dapat menyentuh logika dan pemahaman master
Deddy, membuatnya banyak bertanya tentang Islam. Pertanyaan-pertanyaan yang
beliau ajukan sangat berbobot, ini menunjukkan beliau juga orang yang cerdas. Saya yakin pertanyaan-pertanyaan master Deddy
tidak akan berhenti saat di televisi saja.
![]() |
| Ustadz Wijayanto menjadi narasumber di channel Youtube @mastercorbuzier |
Melihat beliau sepenasaran itu saya
yakin master Deddy sangat mungkin untuk berdialog secara pribadi kepada Ustadz
Wijayanto. Terbukti terakhir saya ketahui ternyata mereka berdua benar-benar
menjadi teman akrab, dan walaupun saat
itu master Deddy masih belum Islam, beliau tidak sungkan kepada Ustadz
Wijayanto dan begitu pula sebaliknya. Bahkan ceritanya, pernah ada kejadian ketoprak
jatah master Deddy yang belum dimakan sebelum syuting diam-diam diembat oleh
Ustadz Wijayanto, tapi master Deddy tidak marah. Ini menunjukkan mereka seakrab
itu.
Begitu juga dengan Gus Miftah yang membimbing master Deddy
bersyahadat. Kurang lebih sepuluh kali Gus Miftah datang ke rumah master Deddy,
untuk bersilaturahmi, membicarakan tentang Islam, dan lain-lain. Gus Miftah ini
dinilai master Deddy adalah orang yang tampil apa adanya, bahkan dengan keluasan
ilmu dan tampilan rambut gondrongnya, Gus Miftah yang biasa berdakwah di dunia malam,
kafe, kaum marginal dan lain-lain ini nampak membuat master Deddy nyaman, pun
saat Gus Miftah memanggil master Deddy dengan sebutan ‘Kafir’, mereka enjoy
saja.
Sekali lagi Alhamdulillah, setelah melalui ‘masa pencarian’ yang cukup
panjang Deddy Corbuzier resmi menjadi Mualaf, semoga dengan master Deddy
menjadi saudara kita dalam iman, Allah membimbing kita ke jalan yang ‘lurus’,
jalan yang Allah ridhoi, sampai masa expired tiba.
Menyaksikan peristiwa ini melalui video-video yang beredar
di sosial media juga di channel yutub membuat saya ingat sesuatu yang saya
alami sekitar 4 tahun yang lalu. Saat itu saya baru tahu ada ustadz yang
bernama Felix Siauw. Penasaran dengan ustadz yang punya nama ‘tidak islami’ ini
akhirnya saya ketik nama itu di mesin pencarian. Lalu muncul banyak artikel
yang memuat tentang beliau. Dan ternyata benar dugaan saya, Ustadz Felix ini
seorang Mualaf.

Selain artikel, tampil juga thumbnail ceramah beliau di
yutub, saya penasaran dengan isi ceramahnya, saya berharap didalamnya ada
cerita tentang kenapa beliau akhirnya memilih untuk menjadi seorang muslim.
Selesai menyimak satu video, saya tertarik untuk membuka video
lainnya. Saya menyimpulkan dari dua ceramah yang saya saksikan itu ustadz Felix
Siauw ini juga orang yang cerdas. Beliau
yang saat itu masih sekolah menengah pertama sudah mempertanyakan tentang
tuhan, asal usul kehidupan, kemana dan untuk apa manusia hidup, dan lain-lain,
yang semua pertanyaan ini tidak dapat dijawab didalam ajaran agama yang dianutnya
saat itu.
Sikap mempertanyakan tentang kehidupan inilah akhirnya Allah
membimbing beliau bertemu seorang ustadz Fatih Karim, ustadz muda yang Felix
Siauw temui saat sudah menjadi seorang mahasiswa. Dengan diskusi yang panjang, Alhamdulillah
hidayah itu pun sampai dan diterimanya.
Dari dua kisah mualaf ini, saya yang sudah menjadi seorang yang
Islam sejak lahir mendapat pembelajaran yang berharga. Menjadi muslim sejak lahir adalah
sebuah anugerah, tapi semakin dewasa saya justru tertarik untuk mendapat
pengetahuan tentang Islam dari sudut yang berbeda. Kisah para mualaf membuka
cakrawala saya tentang Islam. Pandangan non Muslim kepada Islam ternyata sangat berbeda ketika mereka sudah mengetahuinya apalagi masuk kedalamnya. Pemahaman yang berbeda ini membuat pandangan menjadi jauh lebih luas, jauh lebih beragam, yang membuat
saya mengerti, kenapa Islam di sebut sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamiin
(rahmat bagi seluruh alam).
Sampai sekarang, saya selalu tertarik menyimak kisah bagaimana
para mualaf menemukan jalannya untuk memeluk Islam. Bahkan saya pernah
berpikir, kalaulah saya lahir bukan dari keluarga muslim, apakah saya akan
menemukan Islam juga, dan menerimanya seperti yang mereka alami?
Sungguh banyak jalan untuk kita selalu bersyukur. Salah
satunya adalah ketika kita masih Allah jaga dalam iman, dan masih Allah
pahamkan kita pada Islam.
Karena ketika Allah menghendaki seseorang dekat denganNya,
maka Allah akan pahamkan dia pada Islam.



0 comments
Terima kasih sudah berkunjung ^^,
meninggalkan jejak yang baik akan membuat yang ditinggalkan menjadi lebih baik