Bukan Tentang Apa, Tapi Bagaimana Sikapmu
Ada seekor keledai tua milik seorang petani tua. Petani itu sangat menyayangi keledainya, karena keledai ini telah menjadi sahabat perjuangan selama belasan tahun menyambung hidup. Si keledai adalah andalannya untuk membajak ladang, menebar benih tanaman, dan mengangkut panen.
Pada suatu sore, keledai ini terperosok ke dalam sebuah sumur tua yang sudah kering. Keledai itu meringkik-ringkik di dalam kegelapan sumur di bawah sana. Entah meringkik karena ia kesakitan, ketakutan atau mungkin kebingungan. Si Petani yang sangat menyayangi keledainya ini berusaha menolong. Dicobanya segala cara yang dia bisa agar keledainya itu dapat keluar.

Melihat disekeliling ada rumpun bambu, dengan senjata yang dia bawa, ditebanglah sebatang bambu yang nampak kokoh lalu ia ulurkan pula ke dalam sumur, lalu ia minta keledai itu menjepit bambu itu dengan kaki-kakinya lalu dia tarik bambu itu ke atas. Tapi ternyata gagal juga. Dia coba cara lainnya. Dia padukan antara tali dan bambu, dicobanya pula balok-balok kayu, dan semua upaya yang dia bisa. Tetap tidak berhasil.
Tenaganya habis, harapannya pun juga mulai habis. Hari sudah semakin gelap. Akhirnya, dengan keputus-asaan dia memutuskan untuk menimbun saja keledai kesayangannya itu. Pikirnya, biarlah keledai tua ini beristirahat di dalam sana, setelah belasan tahun mengabdi. Matanya basah, dadanya sesak. Tangisnya tertahan, tapi dia mulai mengayunkan cangkul, dia mulai menimbun.
Segumpal dua gumpal tanah mengenai tubuh keledai. Keledai ini bingung dan marah. Dia sedang terjebak didalam sumur itu, tapi kenapa ada tanah yang masuk menimbun dirinya. Lama keledai diam. Tanah semakin banyak masuk ke dalam sumur, bertimbun-timbun. Melihat timbunan tanah yang semakin banyak, lalu tahu lah si keledai apa yang harus dilakukannya.
Dia angkat kakinya naik ke atas setiap timbunan tanah yang jatuh ke dasar sumur. Berpindah ke kanan atau ke kiri menghindari bongkahan tanah yang meluncur bertubi-tubi, atau menggoyangkan badannya saat guyuran tanah menimpa punggungnya. Timbunan tanah semakin meninggi, keledai terus naik. Hingga senja berubah menjadi malam.
Sang petani yang bersedih mengira bahwa keledainya telah tertimbun sempurna di dalam sumur gelap itu. Habis tenaganya, habis harapannya. Dia rebahkan tubuhnya di samping sumur itu. Lalu tiba-tiba, terdengar ringkikan keledai yang segera meloncati tubuhnya yang sedang berbaring itu. Keledai berhasil keluar.
Ibarat kita adalah keledai, sumur itu adalah kesusahan, tanah itu adalah masalah. Kira-kira hikmah apa yang bisa kita ambil dari kisah ini?
BAIK SANGKA
Keledai ini mengajarkan kita untuk melihat hal apa yang bisa dia lakukan dengan timbunan tanah yang menerpanya. Dengan baik sangka dia memanfaatkan peluang untuk meloloskan diri dari sumur gelap itu.
Ya. Berbaik-sangkalah pada setiap masalah yang menimpa. Karena timbunan masalah yang hadir menerpa dalam setiap 'sumur' kesusahan, akan mengangkat kapasitas diri kita menjadi lebih baik agar dapat keluar dari kegelapan, kekalutan, kemarahan dan kesedihan hidup.
Dengan berbaik sangka, jalan keluar dari setiap masalah akan tampak.
Dengan berbaik sangka pula, Allah akan tunjukkan kekuasaanNya.
Bukankah Allah sesuai persangkaan hambaNya?


28 comments
Sangat inspiratif. Terkadang kita memang marah karena masalah atau ujian yang menimpa. Padahal, semua itu justru datang untuk mendewasakan kita, membuat kita semakin tangguh hingga kelak menjadi manusia yang lebih baik.
ReplyDeleteiya mba, jadi pengingat untuk kita agar selalu berbaik sangka pada Allah ^^
DeleteAllah sesuai prasangka hamba-Nya ya Mbak. Terima kasih sudah mengingatkan
ReplyDeletesama-sama mba, saya juga sedang mengingatkan diri saya sendiri ^^
DeleteMenerima Taqdir dan ketentuan terkadang sulit.
ReplyDeleteBenar, karena selera Allah berbeda dengan selera kita. ^^
Deleteterharu saya baca ini, meski pernah dengar ceritanya.
ReplyDeleteMenginspirasi banget. memang benar, sering kita (a.k.a saya) merasa sangat terpuruk dan lebihs ering berprasangka buruk dengan setiap masalah yang datang.
semoga kita menjadi lebih baik ya mba ^^
DeleteBerkali baca cerita ini, berkali itu pula tercerahkan. Ah, thanks, Mbak, salam kenal :)
ReplyDeletesalam kenal juga mba ayu yang ayu ^^
DeleteNice share ... Suka sama artikelnya, sangat menginspirasi
ReplyDeleteterima kasih sudah mampir ya mba ^^
DeleteTerima kasih sdh diingatkan. Bismillah selalu berprasangka baik. Sukaaa.... Selalu ada solusi di setiap permasalahan
ReplyDeleteiyesss banget ^^
DeleteBetul sekali, Mbak. Semua tergantung respon kita terhadap suatu masalah, bukan masalahnya. Terima kasih sudah sharing. 😊
ReplyDeletesama-sama mba, semoga bermanfaat ^^
Deletesuka sama artikelnya...makasih mbak
ReplyDeletesama-sama mba, makasih udah mampir ya ^^
DeleteMasyaa Allah.. Keren ceritanya. Makasih ya mbak. :)
ReplyDeletesama-sama mba ^^
Deletemenginspirasi banget mbak, makasih udah diingeti lagi
ReplyDeletesama-sama mba, saya juga sedang mengingatkan diri saya sendiri ^^
DeleteMasya Allah, menginspirasi sekali, Mbak kisahnya...
ReplyDeletealhamdulillah mba ^^
DeleteWe are what we respond y mba
ReplyDeletebetul banget mba ^^
DeleteAku suka ceritanya. Yes, mba kita harus tetap berbaik sangka, karena akan selalu ada hikmah dibalik itu semua.
ReplyDeletesetuju ^^
DeleteTerima kasih sudah berkunjung ^^,
meninggalkan jejak yang baik akan membuat yang ditinggalkan menjadi lebih baik