Enam hari yang lalu...
Ba'da sholat subuh yang sunyi sendu saya menengadahkan tangan,
bersyukur dengan sangat karena masih Allah beri kesempatan hidup, masih Allah
bangunkan saya dari tidur yang nyenyak, masih Allah anugerahkan kesehatan
sehingga ketika bangun masih leluasa bergerak, masih enak makan, masih
enak minum, masih bisa menatap anak-anak yang sedang lelap tidur dan masih
didampingi oleh suami yang sama-sama menginginkan surga.
Rasa syukur membuncah dalam hati, namun juga terbit kegelisahan
yang sangat mendalam. Perpaduan rasa yang sangat kontras ya.
Kenapa?
Karena subuh ini tepat di hari lahir saya.
Moment yang bagi sebagian orang merasa gembira dan bahagia, tapi
bagi saya, ini moment untuk harus semakin bersiap-siap.
Karena ini sebagai peringatan bahwa saya semakin mendekati garis “finish”.
Secara masehi sekarang sudah berusia dua puluh sembilan tahun.
Kalau dihitung-hitung Allah sudah memberi kesempatan hidup sebanyak
kurang lebih 10.585 hari.
Wow.. Angka yang luar biasa untuk melakukan banyak hal bukan? Tapi
saya selalu mempertanyakan “apa yang
sudah saya lakukan sepanjang usia ini?”
Saya menangkupkan tangan ke wajah sambil mengucapkan 'aamiin'
sekhusyuk yang saya bisa.
Sangat berharap Allah menerima ucapan terima kasih dan rasa syukur
saya pagi ini.
Selesai dengan rangkaian ibadah subuh ini, masih dibalut mukenah
dan duduk di sajadah, suami langsung menghampiri.
Memeluk sambil mengucapkan, “Barakallah
fi umrik, Ummi.”
Kalimatnya terdengar tulus sekali. Mendoakan saya, mendoakan istrinya ini agar mendapat keberkahan dalam usianya. Aamiin, semoga Allah mengabulkan.
Sambil membalas senyumnya, saya malah bertanya, “Berapa lagi
sisanya ya, Bang?”
Dia tertawa, tapi saya serius memikirkannya.
Berapa lagi sisa waktu saya?
Saya sangat berharap ketika nanti waktunya tiba, Allah menganugerahkan 'happy ending' bagi hidup saya atau istilah lainnya husnul khatimah, atau akhir yang baik.
Akhir yang aku berada dalam keadaan beriman kepada Allah, dalam keadaan sedang melakukan ibadah, dalam keadaan bebas utang sekecil apapun, dalam keadaan terbaik, dengan cara yang baik, tidak meninggalkan sengketa apapun, tidak meninggalkan keturunan yang lemah, dan dengan keadaan menyebut Laa ilaha illallah.
Sungguh akhir yang indah.
Sungguh aku mengharapkannya.
Saya sangat berharap ketika nanti waktunya tiba, Allah menganugerahkan 'happy ending' bagi hidup saya atau istilah lainnya husnul khatimah, atau akhir yang baik.
Akhir yang aku berada dalam keadaan beriman kepada Allah, dalam keadaan sedang melakukan ibadah, dalam keadaan bebas utang sekecil apapun, dalam keadaan terbaik, dengan cara yang baik, tidak meninggalkan sengketa apapun, tidak meninggalkan keturunan yang lemah, dan dengan keadaan menyebut Laa ilaha illallah.
Sungguh akhir yang indah.
Sungguh aku mengharapkannya.


0 comments
Terima kasih sudah berkunjung ^^,
meninggalkan jejak yang baik akan membuat yang ditinggalkan menjadi lebih baik